ETIKA MENEMUI GURU

ETIKA MENEMUI GURU

 

Guru merupakan seseorang yang sangat berjasa bagi manusia. Perannya dari dulu sampai sekarang sangat diperlukan. Dialah yang membantu manusia untuk menemukan siapa dirinya dan apa yang akan dilakukannya di dunia. Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki manusia tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Guru pula yang memberi dorongan agar manusia berani berbuat benar dan membiasakan mereka untuk bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya. Di era milenial dan perkembangan zaman ini, merosotnya nilai-nilai kesopanan murid terhadap gurunya. Kita banyak melihat murid-murid yang berbicara kasar kepada gurunya, berbicara dengan seenaknya. Menganggap guru sebagai teman itu boleh-boleh saja, akan tetapi tetap harus mempunyai rasa hormat kepada guru. Maka dari itu, dalam tulisan ini akan sedikit dipaparkan mengenai etika guru terhadap muridnya, khususnya etika murid ketika bertemu dengan gurunya.

Etika adalah penentu kebahagiaan seseorang, kurangnya etika akan membawa kehancuran. Dengan etika akan membawa kebaikan di akhirat nanti. Murid adalah orang yang menuntut ilmu kepada guru, untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dari guru, murid haruslah mempunyai adab atau etika yang baik. Menurut Syeikh Ahmad Nawawi, adab murid terhadap guru antara lain:

  • Murid harus taat kepada guru terhadap apa yang diperintahkan di dalam perkara yang halal.
  • Murid harus menghormati guru.
  • Mengucapkan salam ketika bertemu dengan guru, karena perilaku itu bisa membuat guru senang.
  • Ketika murid bertemu guru di tepi jalan, hendaklah murid menghormati guru dengan berdiri dan berhenti.
  • Murid hendaknya menyiapkan tempat duduk guru sebelum guru datang.
  • Ketika duduk di hadapan guru harus sopan seperti ketika sedang sholat yaitu dengan menundukkan kepala.
  • Murid harus memperhatikan penjelasan guru.
  • Murid jangan bertanya ketika guru sedang lelah.
  • Ketika duduk dalam suatu majelis pelajaran, murid hendaklah tidak menolah-noleh ke belakang.
  • Murid jangan bertanya kepada guru tentang ilmu yang bukan di bidangnya atau bukan ahlinya.
  • Murid harus memperhatikan penjelasan guru dan mencatatnya untuk mengikat ilmu agar tidak mudah hilang.
  • Murid harus berprasangka baik terhadap guru.

Semua hal di atas sangatlah penting bagi seorang murid, karena dengan adanya hal tersebut di dalam dirinya, maka ilmu yang dia peroleh akan sangatlah bermanfaat. Kita dapat mengambil contoh dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman yang tidak berani meminum air di saat berada di hadapan gurunya, dia tidak berani melakukannya karena dia segan terhadap gurunya. Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata,

مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ

Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.

Hal tersebut murupakan sesuatu yang layak dan baik untuk kita tiru. Kita juga harus memuliakan seseorang yang lebih tua dari kita, seperti orangtua kita di rumah termasuk guru kita di sekolah, karena guru atau orang yang berilmu itu harus diutamakan pandangannya. Rasulullah sallallahualaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

Artinya: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).” (Ahmad).

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa murid adalah orang yang mencari ilmu. Dalam perjalanan mencari ilmu itu murid haruslah mempunyai adab dan etika yang baik seperti menghormati gurunya. Karena dengan adanya etika tersebut, maka ilmu yang didapatnya akan sangatlah berguna bagi kehidupan ini. Murid harus mempunyai rasa hormat kepada gurunya. Tidak boleh berkata kasar, dan selalu menuruti perintah guru asalkan hal itu baik. Selalu menghargai guru dan memuliakannya. Semoga dengan adanya uraian ini, dapat sedikit menyadarkan guru-guru dan murid-murid mengenai pentingnya etika. Dan juga agar keduanya saling menghargai dan satu sama lain, baik guru terhadap muridnya maupun murid terhadap gurunya.

Disusun oleh :

  1. Ahmad Zubair Al Mahdi (04)
  2. Fatkhur Rohman Ardiansyah (12)
  3. Muhammad Hikmal Abror (21)
  4. Muhammad Tsaqif (22)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *